Mt Bromo: Great Adventure

Saturday, July 26, 2014

ni hasil Googling loh, soalnya gara-gara kabut tebal kami ngga bisa foto Bromo pas bagus gini -_-


   Gunung Bromo adalah tempat wisata yang menarik dan sudah terkenal, bahkan sejak sekolah dulu sudah banyak cerita mengenai gunung ini, dan lagi gunung ini bertetanggaan dengan gunung di filmnya ‘5 cm’ yang tahun lalu sempat booming, yaitu gunung Semeru.

   Dan karena liburan semester lalu aku mutusin untuk ngga pulang, maka muncul berbagai planning untuk mengisinya, awalnya kami berencana ke pantai Goa Cina di sebelah Selatan Malang, tapi karena ada yang menyarankan untuk ke Bromo maka kami pun sepakat memutuskan untuk ke Bromo.

   17 jam sebelum keberangkatan, pukul 04.00 WIB

   Subuh itu aku bangun lebih cepat dari biasanya, yaa soalnya malamnya pun aku ketiduran kurang lebih jam 9 malam, aku bangun terus beraktifitas seperti biasa. Aku bahkan ngga menyempatkan diri untuk tidur sampe jam keberangkatan, padahal yang lainnya pada menyempatkan diri untuk tidur soalnya aku kira bakal mudah nyampe ke puncak bromo.

   Pukul 21.00 kami memulai perjalanan dengan beranggotakan 6 orang, 4 cowok 2 cewek dengan 3 motor. Masing-masing sudah berpakaian ala pendaki gunung dan hanya aku yang menggunakan kaos putih levi’s, dengan jaket tipis abu-abu, jeans dan awalnya aku berencana hanya memakai sandal jepit tapi banyak yang menyarankan untuk ‘jangan’, yaudah aku ambil aja sepatu bola di belakang asrama. Terus ada juga abang asrama yang nyuruh bawa sarung dan awalnya sih aku kira sarung ngga terlalu banyak membantu dan aku taruh dalam bagasi motor.

   Banyak dari kami yang belum mempunyai motor tapi berhubung banyak abang-abang asrama yang pulang jadi kami minjam dari mereka sebelum meraka pulang ke rumah masing-masing di Aceh (kesempatan yang ngga boleh dilewatin :D ).

   Hampir 2 jam ketika kami sampai dialun-alun kota Pasuruan untuk menikmati kopi panas di café pinggir jalan alias warung. Dan kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 01.00 malam, jalanan sangat sepi dan cuaca pun mulai terasa menusuk tulang hingga ketika sampai di SPBU kami dikerumuni oleh sekitar 13-an orang bersarungan seperti layaknya orang yang sedang bertugas jaga malam, orang-orang ini berasal dari daerah sekitar yang ternyata membawa dagangan masing-masing, usianya beragam mulai dari orang dewasa, orang tua renta hingga anak-anak seumuran sd pun ikut berjualan beberapa keperluan untuk naik keatas seperti sweater, sarung tangan, topi, jaket dan juga heater :D, harganya pun relatif lebih mahal, dan akupun yang keatas tanpa persiapan langsung membeli sarung tangan seharga 10 ribuan kalo ngga salah, setelah menggunakannya aku langsung membuka bagasi motor dan kuambil sarung yang tadi kusimpan, sarung yang awalnya aku kira ngga berguna akhirnya harus kukeluarkan saat itu.

  Kemudian kami naik lagi dan sampai ditempat makan yang udah ditutup, sebagian ke toilet dan yang lainnya duduk sambil ngecas hp dan ngga lupa buat foto-foto, nih fotonya :D


Ngga sempat pose


   Setelah satu jam disitu kami pun melanjutkan keatas, diatas (belom masuk Bromo loh) kami membeli tiket di pos dan anginnya bertiup sangat kencang hingga kami ikut-ikut untuk bergabung dengan penjaga yang ada disana. Sekitar 15 menitan disana kami melanjutkan hingga sampai di pos terakhir yang ada penjaganya, sampai dipos tersebut malah kami diperingatkan karena adanya cuaca yang sangat buruk bagi pengendara motor, bahkan jarang pandang sangat minim. Dari atas terlihat mobil jeep sewaan yang berjalan menyusuri hutan dan yang membuat aku heran, kenapa jeep tersebut bisa kelihatan padahal disekelilingnya seperti ada hutan (besoknya pas pulang kami lewat dijalan yang sama dan ternyata yang ada hanyalah padang pasir yang luas dan membentuk jalan sendiri akibat sering dilalui jeep dan kendaraan lainnya).

   Karena udah terlalu jauh untuk kembali maka kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan apa pun yang terjadi, dan apa yang terjadi? Ketika melewati padang pasir tersebut badai mulai menerpa para pengendara motor (jangankan supirnya, yang duduk dikursi belakang pun ikut merasakan dahsyatnya badai), jarak pandang yang hanya beberapa meter dan jarak yang begitu jauh pun sempat membuat semangan kami hilang, seperti berjalan dijalanan yang ngga ada ujungnya, begitulah kira-kira. Dengan jarak pandang yang minim dan tanpa rambu-rambu maka hanya satu yang menjadi pedoman kami, yaitu lampu rem jeep yang terus menyusul dari belakang dan tidak lama kemudian menjauh kedepan dan hilang ditelan hujan, setelah satu jeep menghilang maka kami menunggu jeep lainnya yang juga menyusul.

   Aku yang duduk dikursi belakang motor dapat melihat orang-orang yang ikut didalam jeep, dengan santainya mereka tiduran didalam, jujur aku yang naik motor didalam hujan merasa iri dan menyesal karena ngga naik jeep. -_-

   Hingga sampai keujung jalan terdapat jalanan aspal dilereng bukit yang menjadi viewpoint, tempat dimana kita bisa menyaksikan sunrise dari gunung Bromo, itu karena Bromo berada diantara sunrise dan bukit yang menjadi viewpoint.

   Kedua motor temanku dapat melaju dengan baik ketika menaiki lereng yang curam, tapi tidak dengan motor yang kunaiki, bahkan sering kali aku turun untuk mendorongnya hingga mencapai tempat yang tidak terlalu curam hingga aku dapat naik kembali. Selang beberapa lama hingga akhirnya kami sampai diwarung dan memutuskan untuk makan dan menghangatkan diri, dan yang menjadi musibah adalah karena beberapa diantara kami hanya membawa sedikit uang, aku hanya membawa 50 ribuan dan sebagian sudah aku habiskan untuk bensin dan sarung tangan, juga untuk membayar kopi ketika dialun-alun Pasuruan. Akhirnya kami minjam uang dari abang yang ikut kesana untuk membeli cappuchino hanya untuk sekedar menghangatkan diri. Sebenarnya sih pingin makan mie instan, tapi apa daya uang tak punya -_-




Nikmatnya Capuchino













   Setelah cukup hangat dan jemuran telah ‘agak’ kering (sarung yang basah akibat badai di padang pasir tadi sempat kami jemur sebelum menyantap pesanan), kami pun melanjutkan keatas tepat saat subuh, berbeda dari perkiraanku sebelumnya ternyata diatas ada puluhan orang yang telah sampai duluan.

   Abis parkir ditempat yang disediakan kami pun menuju tempat utama di viewpoint ini. Disana terdapat banyak warung yang menjual berbagai perlengkapan seperti yang dijual oleh pedagang di SPBU tadi dan banyak juga yan menjual makanan dan gorengan.

   Diatas kami menunggu sunrise dan setelah beberapa saat kami baru menyadari bahwa karena cuaca yang buruk maka kami sama sekali ngga bisa melihat matahari terbit karena kabut tebal yang menutupi pandangan. Kekecewaan pun terpaut pada hamper seluruh manusia yang ada pada saat itu, tapi sebagian tetap semangat untuk berfoto dengan tongsis atau dengan samthphone biasa.








   Setelah berfoto diatas dan menggigil kedinginan kami pun menuju warung terdekat untuk menghangatkan diri dan membeli beberapa gorengan (cuma modus biar bisa lama-lama disitu loh), lagi-lagi karena kekurangan dana aku dan beberapa temanku ngga makan, padahal udah laper banget sumpah -_-. Ada sih yang nawarin nyuruh aku makan biar dianya yang nraktir tapi akunya gengsi :D hhahaha

   Dimeja berlapis kaca tampat kami makan tadi ada banyak banget foto-foto yang dipasang sama orang-orang yang udah pernah kesini, ngga mau ketinggalan beberapa temenku pun ikutan nempel fotonya mereka disitu, aku yang ngga punya pasfoto di dompet jadi ngga bisa ikutan dong -_- udah gitu baru kami turun untuk selanjutnya ke puncak Bromo.



   Ngga puas diatas, sambil dijalan turun pun kami masih asik berfoto. Jalan sebentar terus foto, jalan lagi foto lagi, begitu seterusnya sampe pas foto terakhir dan akan ngelanjutin kebawah supir yang bawa motor yang aku naikin bilang “kita ngga usah pake hidupin mesin aja, jalan aja pake rem kan bisa”. Udah aku “okein” terus jalan dah motornya, tapi baru sebentar jalan terus temenku yang lain teriak sambil bilang “eh itu cagaknya belum diangkat!”. Spontan semua pada liat kearah bawah motor yang aku tumpangin, bahkan aku sama supirnya pun ikutan liat. Dan karena kami sama-sama liat kebawah otomatis motornya oleng dan aku sempat terguling sampe akhirnya aku bisa bangun, aku sih ngga apa-apa bahkan mau ngerjain mereka dengan pura-pura sakit, tapi ternyata malah supirnya yang kesakitan (ngga jadi deh jailnya -_-)

   Karena mengaku ngga sanggup maka pas dijalan turun aku yang gentian ngambil posisi untuk jadi supir. Suara temenku yang kesakitan dan semakin lemas pun membuatku jadi tambah gugup ditambah lagi jalanan yang sangat curam, salah-salah aku ngga bisa nikah -_-

   Nyampe kebawah temenku yang jatuh tadi langsung ditidurkan dirumput dekat padang pasir, kondisinya mengkhawatirkan banget soalnya dia ngga bergerak dan sangat lemas, disaat genting seperti itu temanku yang punya smartphone malah minta difotoin sama Bromo yang udah ada dibelakangnya, aku ingin juga sih tapi berhubung musibah yaa ngga mungkin lah aku ikut foto juga -_-



   Karena satu orang udah ngga kuat lagi jadi kami mutusin untuk membatalkan naik ke Bromo yang udah didepan mata dan hanya sempat foto di padang pasir tempat dimana perjalanan terberat yang kami lalui semalaman.

  
Banyak angin
                           


tu Bromo dibelakang -_-






















Bareng orang sakit :P


   Ketika dijalan pulang ternyata kami sempat melihat indahnya bukit Teletubbies yang indah kehijauan, saking indahnya sampe membawa kami melewati jalan yang berbeda, dan parahnya jalan yang kami lalui kali ini adalah jalan yang terbuat dari semen dan batu-batuan yang sudah patah dan akibatnya membuat perjalanan naik keatas makin sulit saja. Untungnya sampai keatas kami menjumpai pos yang dihuni oleh warga setempat, dan kami pun memaksa korban yang tadi jatuh untuk diobati, awalnya kami sendiri yang mengobati dia, tapi karena dianya berontak (padahal hanya beberapa tetes rivanol yang akan kami oleskan) hingga akhirnya orang tua yang ada dipos ikut andil dan memaksakan untuk meneteskan rivanol tersebut sebanyak mungkin, mampus deh akhirnya jadi malah lebih tersiksa 3J

   Suasana dipos tersebut juga masih berkabut (tapi bukan karena hujan loh), padahal udah sekitaran jam 09.00 gitu.

Kabut tebal kan

   Dijalan pulang aku yang menjadi supir dan membawa satu orang perempuan, yang ngga aku sadari adalah bahwa aku udah ngga tidur selama 35 jam dan saat itu aku bawa motor dengan setengah sadar dan aku pun bingung kok bisa aku bawa motor segitunya padahal jurang dikiri-kanan jalan hingga ketika hampir sampai dijalan raya pun terdapat jalan aspal yang lurus dan jauh banget sampe ke jalan rayanya, disitu banyak petani yang membawa parang dan senjata tajam lainnya, terus aku mikirnya bakalan mampus kalo ketiduran di motor terus kena parang dileher, ngga jadi nikah dah -_-

   Sampe akhirnya kami berhenti di restoran (awalnya dikirain café, tapi ternyata tempat ibu-ibu (istrinya) polisi buat arisan, mahal banget -_-) dan makan. Abis makan aku ceritain kalo aku udah ngantuk banget, terus aku minta gentian bawa motornya. Baru sebentar naik sama temenku (sebagai penumpang) aku langsung ketiduran, padahal masih sekitar 1 jam sampe ke malang. Nyampe ke asrama Aceh aku langsung tiduran mulai jam 2 siang sampe jam 4 subuh baru bangun lagi, itu baru pembalasan dendam yang indah 3:)

   Saat ditanyain kenapa temenku sampe lemes pas jatuh, sedang aku biasa aja, dianya bilang ‘itu karena aku laper’, dan karena laper malah ngga jadi ke puncak -_- jadi saran aku kalo temen-temen pada mau ke Bromo: “jangan pernah lupa bawa uang anda”


Foto sebelom jatuh dari motor